Pak Malau + Tek Hian
Pak Malau + Edy Gunawan
Jumat, 22 Agt 2008
Hallo teman2,
Tadi siang gw ama edy engkong ke rumah pak malau.
Beliau telah pensiun dari BM beberapa tahun yg lalu.
Kondisi beliau dalam 2 tahun, terutama 3 bulan
terakhir ini makin menurun, sehingga sulit untuk
bangun dari tempat tidur tanpa bantuan istri/anaknya.
Beliau sudah cukup sulit bicara, namun dari sorot
matanya masih tampak pengharapan untuk kembali sembuh
(mohon doa teman2). Penyakit diabetes beliau telah
menyebabkan otot2 menjadi lemah, termasuk otot jantung
karena berat mendukung paru2nya yg sebagian sudah
terendam air. Sementara kontrol pengobatan di Husada
ditangani alumni BM angkatan 70 an (kepala ICCU,
spesialist jantung dr.Hans ?). Semangat hidup beliau
terlihat tatkala kita bercerita tentang gaya beliau di
kelas (sayang murid kesayangannya tidak ikut :
mr.siong tjun).
Sebelum ke pak malau, gw sendirian ke BM guna
mengumpulkan info mengenai guru2 yg lain. Disana
ketemu langsung dgn pak alex, ibu louise, ibu lucia,
dan ibu poniyati. Mereka masih seperti dahulu
penampilannya, dan sangat senang kalau dikunjungi
bekas murid2nya. Cuma sayangnya aktivitas anak2 BM
sekarang tidak seperti jaman kita dahulu, tidak ada
malam kesenian, apalagi kemping, hiking atau tour
(sedih deh gua).
Sekian laporan
Tek Hian


Ibu Louise, Ibu Ponijati, Ibu Lucia
Kategori: Guru Kita sekarang
Jakarta 30 Juli 2008
Hari ini adalah hari yang special karena kita hendak berkunjung ke rumah Ibu Francisca (“Mam”) yang telah 20 tahun ini tidak jumpa. Oh ya, Yirhan sebelumnya telah beberapa kali berkunjung ke rumah “Mam” sebelum reuni kemarin berlangsung, pertama untuk keperluan survey dan kemudian menyampaikan undangan menghadiri reuni dan mengambil gambar dan video untuk ditampilkan selama reuni berlangsung (yang karena kondisi kesehatan beliau berhalangan untuk hadir).
Perjalanan dilakukan serentak dari 4 titik. Rombongan dari Bekasi (Agus, Ratna dan Tasya, anak semata wayang pasangan Agus dan Ratna yang cantik dan cerdas), Sunter-Gunung Sahari (Nur Welly, Siao Yen dan Li Chiang), Serpong-Poris (Fera, Amen, Paula, Tek Hian) dan Bandung (Yir Han). Rombongan Sunter-Gunung Sahari diakuisisi oleh rombongan Serpong-Poris di Crowne Plaza dan bertemu dengan rombongan Bekasi di Lido Sukabumi. Lalu dengan 2 mobil beriringan langsung menuju rumah “Mam” dan bertemu rombongan Bandung di sana.
Rombongan hasil merger ini disopiri oleh Nur Welly, Tek Hian dan Amen secara bergantian. Ramai sekali di dalam mobil Fera ini. Saking asyiknya berceloteh satu sama lain mengenang masa2x SMA, rombongan tiba di tol Cikampek! Berhubung rombongan Bekasi sudah bergerak lebih dulu, maka kami pun berbalik arah dan kembali ke “jalan” yang benar, hahaha… Kita ada sopir dan navigator yang huebat! Lamanya perjalanan menambah asyik dan serunya perbincangan dalam mobil. Gelak tawa dan celutukan bertebaran di sepanjang perjalanan.
Oleh karena satu dan lain hal, rombongan hasil merger terlambat tiba di Lido, yang sedianya akan bertemu di sana jam 8 pagi, tapi apa boleh buat baru bertemu di sana jam 9.45. Untung pasangan dari Bekasi tetap setia menunggu di Lido
Setelah membuang hajat di Lido, rombongan bergerak ke rumah “Mam”. Kemacetan terjadi di pasar Cicurug, namun akhirnya bisa tiba di rumah “Mam” dengan selamat jam 11.20. Yir Han telah tiba lebih dulu dan sempat belanja moci Sukabumi.
“Mam” yang telah menunggu dan menyiapkan penganan untuk kita, menyambut hangat satu per satu personil yang tiba. Suasana kekeluargaan telah meliputi kami semua sejak dari awal pertemuan. “Mam” berusaha mengingat kembali satu per satu dari kita dengan menanyakan nama dan jumlah anak kita masing2x. Selain itu, “Mam” juga berceloteh masalah yang sedang hangat belakangan ini seperti kebobrokan institusi negara yang sarat kasus korupsi, biaya pernikahan putri Aburizal Bakrie yang memakan biaya hingga miliaran rupiah sedangkan korban lumpur Lapindo hanya bisa termenung, hingga kasus pembunuhan berantai di Jombang. Rupanya saat ini “Mam” masih aktif membaca koran, majalah dan menonton acara dan berita di televisi. Walau kesehatan beliau sudah tidak prima seperti dulu, namun semangat beliau masih seperti dulu. Dengan gaya bicara yang antusias dan lucu, senyum dan tawa selalu menghiasi wajah beliau saat berbincang-bincang dengan kita.
Rumah yang ditinggali oleh “Mam” sangatlah rapi dan tenang walau berada tepat di pinggir jalan raya. Dengan luas keseluruhan sekitar 3000 meter persegi, dengan pepohonan dan kolam di sekitar rumah, udara yang sejuk walau hari telah siang, tampak nyaman ditinggali oleh “Mam”. Tampak sesekali “Mam” beranjak untuk memberi makan ikan-ikan di kolam. Menurut “Mam”, dahulu rumah ini ditinggali oleh 9 orang, tapi sejalan dengan berlalunya waktu, kini hanya ditinggali oleh 3 orang saja sehingga rumah ini tampak terlalu luas untuk mereka tinggali sementara biaya pemeliharaan tidak sedikit. Untunglah “Mam” adalah pensiunan PNS sehingga dimasa pensiunan ini masih mendapatkan uang pensiunan yang dapat diambil setiap bulannya di kantor pos. Iya, mungkin teman2x heran kok bisa ya. Rupanya “Mam” adalah guru berstatus PNS sebelum ditugaskan ke Budi Mulia.
Setelah pembicaraan awal ini, “Mam” menanyakan foto2x reuni yang berlangsung beberapa waktu lalu. Paula dengan laptopnya menunjukkan kepada beliau foto2x yang diambil pada saat acara reuni. “Mam” sangat antusias mendengarkan nama2x peserta reuni dan sangat senang bisa melihat foto para kolega beliau semasa di BM dahulu seperti Pak Dullah, Pak Benny, Pak Frans, Pak Mardi dan Bu Anny, Pak Felix, Pak Hardjono, Pak Piet dan PAk Alex. Berbagai komentar pun dilontarkan saat melihat foto2x mereka. Mata “Mam” tampak berbinar-binar.
Pembicaraan pun berlanjut dengan pertanyaan “Mam” seputar kejadian apa saja yang pernah terjadi di BM untuk menyegarkan ingatan beliau. Rupanya “Mam” masih ingat posisi daerah sekitar SMA BM, di mana letak kantor kepala sekolah dan di mana letak kantin, karena murid2x yang terkena hukuman umumnya disuruh duduk di kantin. Cerita2x ini membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Lalu “Mam” mengatakan bahwa peristiwa dahulu dimana tidak meng-enak-an dengan hukuman yang diberikan, bila diingat kembali saat ini telah menjadi kenangan yang lucu dan manis.
“Mam” juga menanyakan kapan ya kami murid2x “digiring” ke gereja secara rutin. Ada teman yang mengatakan setiap hari Jumat. Topik gereja pun terangkat. Setiap minggu “Mam” berangkat ke gereja dengan menggunakan angkot. Rupanya angkot tidak mencapai gereja yang dituju, tetapi “Mam” tidak kehabisan cara. Supaya tidak capai berjalan menuju gereja dari tempat turun angkot, “Mam” memberikat sedikit tips untuk supir angkot supaya diantarakan hingga depan gereja! Hebat sekali. Bila pulang dari gereja, sopir angkot pun berbaik hati membantu “Mam” menyebrang hingga ke depan rumah, tentu dengan sedikit tips pula. Rupanya supir angkot sudah cs-an dengan “Mam”. Memang jalan raya di depan rumah “Mam” sangat ramai karena merupakan jalan utama di Sukabumi yang menghubungkan Jakarta dan Bandung.
Bersama-sama kami menikmati penganan dan minuman yang telah disediakan oleh “Mam” khusus untuk kita. Kita sendiri membawa makanan dan minuman sendiri dengan tujuan tidak ingin merepotkan “Mam” sekalian berpiknik bersama di rumah “Mam” yang luas ini. Ratna membawa kue sus dan pastel panggang yang dibuat sendiri. Rasanya uenak banget. Kalo ada yang hendak mencobanya, boleh pesan kepada Ratna. Fera membawa pastel dan risoles. Paula membawa sekotak Aqua gelas dan juga roti. Asyik sekali teman-teman.
Tak terasa waktu berlalu begitu saja. Sebelum kita beranjak meninggalkan rumah “Mam”, kita berikan kepada “Mam” piagam penghargaan guru yang juga kita bagikan kepada guru2x ketika reuni yang lalu, beserta dana dari hasil sumbangan teman2x. Piagam yang masih terbungkus langsung dibuka oleh “Mam” dan isinya dibacakan oleh Siao Yen, sang penulis puisi dalam piagam tersebut. “Mam” sangat gembira dan berkali-kali menghaturkan terima kasih. “Mam” mengatakan bahwa beliau sangat senang bertemu dengan para anak didiknya yang menurut beliau telah “menjadi orang”, dan yang lebih menggembirakan lagi adalah para anak didik beliau begitu menghargai beliau sebagai guru yang telah berjasa mendidik mereka. Tak lupa, “Mam” meminta kami semua yang hadir untuk menandatangani di balik piagam tersebut. “Mam” juga mengemukakan bahwa akhir2x ini (sejak Mei 2008 ) begitu banyak anak didik beliau yang datang mengunjungi beliau. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak beliau apakah waktu beliau di dunia sudah semakin dekat?
Sebelum pulang “Mam” meminta kepada saya untuk selalu mendoakan beliau. Ya “Mam”, kami semua anak didik “Mam” akan mendoakan keselamatan dan kesehatan “Mam”. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 1.45 siang dan kami pun beranjak meninggalkan rumah “Mam” dengan membawa kenangan yang akan membekas dalam hati kami semua para anak didik beliau.
(-Liciang-)



Kategori: Guru Kita sekarang