Selasa, 2 Sept 2008
Dear all,
Siang ini kami berempat (Amen, Tekhian, Fera, n me) mengunjungi rumah tiga mantan guru kita, yaitu bu Luci (B.Indonesia/ PMP), bu Sri Sumarti (Matematika utk A1/A2) dan ibu Meidiana (OR). Semuanya merasa senang dikunjungi kami dan terlihat dari ekspresi wajah mereka, terutama sekali Ibu Sri, karena beliau sudah pensiun sejak lama.
Jam 1 lewat kami tiba di rumah ibu Luci, setelah sempat nyasar di antara gang2 sempit di daerah Joglo/Meruya. Rupanya waktu tahun 2000 rumah yang beliau dulu tempati ditukar dengan rumah yang sekarang, karena daerah tempat itu sekarang dibangun perumahan Puri Botanical Garden, Joglo, sehingga rumahnya sekarang tergusur ke samping perumahan tersebut. Putra ibu Luci kuliah di Binus jurusan Teknik Industri,sedangkan putrinya kuliah di ITI Serpong jurusan Teknik Kimia. Cerita pindah ke kenakalan anak sma bm, ibu Luci cerita pernah ada anak yang memanjat pagar RS Husada untuk berusaha masuk lewat kantin SMP, dan akhirnya kepergok oleh satpam RS dan dibawa ke sekolah. Pagi hari beliau berangkat mengajar jam 6 pagi dibonceng motor sampai ke Tanah Abang, dan melanjutkan perjalanan dengan mikrolet sampai Olimo, kemudian lanjut lagi hingga ke Budi Mulia. Beliau mengucapkan terima kasih atas perhatian rekan2 semua.
Dari rumah ibu Luci kami pindah tempat ke rumah ibu Sri. Jaraknya tidak jauh dari rumah ibu Luci, oleh karena itu pula Ibu Luci masih sering bertemu ibu Sri, terutama dalam acara doa lingkungan ataupun arisan. Walaupun tidak pernah diajar oleh ibu Sri (kecuali Fera), kami disambut hangat sekali, dan beliau sangat senang dikunjungi karena ada yang masih ingat dan memperhatikan beliau, katanya Setelah pensiun kegiatannya tidak banyak lagi, lebih pada kegiatan rohani dan gereja saja. Bila melihat anak2 SMA dengan seragam putih abu2, beliau masih suka kangen untuk mengajar. Walaupun pelajaran matematika sekarang dan dulu berbeda, tapi beliau masih bersemangat untuk mengajar keponakannya bila ditanya. Rumah beliau asri, karena terlindung pohon2, namun bila hujan deras, banjir setahun 2 atau 3 x masih dialami. Sama dengan ibu Luci beliau juga menyampaikan terima kasih atas perhatian kita semua.
Dari Joglo, kami berpindah ke Bojong, Cengkareng. Bagi yang tahu daerah Bojong, di sinilah langganan banjir bila musim hujan tiba. Begitu juga rumah ibu Meidiana yang terletak di dalam perumahan Bojong Indah. Semestinya ibu Diana sudah pensiun, tapi diminta oleh Bruder untuk terus mengajar selama 1-2 tahun lagi, beliau tidak dapat menolak. Sampai akhir Maret yang lalu, sewaktu suami beliau meninggal, beliau terpaksa melepaskannya karena harus menggantikan almarhum suami yg selama ini di rumah menjadi MC alias “momong cucu”, begitu cerita ibu Diana. Putra pertama dan kedua yang kembar kuliah di Univ. Pancasila, kemudian putra yg ke-3 sudah berkeluarga, dan tinggal bersama ibu Diana, dan putri bungsu sudah bekerja juga di Itjen Perhubungan. Beliau menceritakan juga almarhum suami yang dulu adalah pelaut, dan di ruang tamu ada lukisan besar menggambarkan kapal Tampomas yang pernah dinaiki juga oleh sang suami. Karena ibu Diana adalah mantan guru olahraga, beliau tidak bisa tinggal diam, selalu ada saja yg dikerjakan; dan setiap pagi masih rajin berolahraga jalan pagi. Bahkan jalanan depan rumah beliau sampai tetangganya juga disapunya demi gerak badan katanya. Kebetulan ada alumnus BM juga yg tinggal bersebelahan dengan rumah ibu Diana. Nah cerita lucu juga, tetangganya ini ragu2 saat mau menegur ibu Diana, dan suatu saat berpapasan akhirnya memberanikan diri menegur, dan mengatakan takut salah orang. Ibu Diana bilang tidak mungkin salah, lihat di bawah hidung saja. Di situ ada tahi lalat, ciri khas ibu Diana dari dulu agar bisa langsung dikenali oleh mantan siswa/i nya. Pesan ibu Diana adalah jangan sampai kita tidak punya kegiatan apa2 terutama bagi rekan2 yang wanita (karena beliau kan guru OR murid wanita) agar tidak cepat pikun bila sudah tua nanti. Lebaran nanti, ibu Meidiana rencananya ‘pulang kampung halaman’ ke Lampung. Beliau juga menyampaikan terima kasih dan semoga Tuhan memberkati kita semua.
Nah, bagaimana wajah para mantan guru kita itu? Silakan lihat sendiri, awet muda kan?
Salam,
Paula



2 tanggapan so far ↓
Catharina // 21 Maret 2009 pada 12:58 |
Hello…
Aduh… terima kasih, saya bisa lihat bekas guru2 saya di BM. Saya lulusan BM’74
bm88 // 22 Maret 2009 pada 09:54 |
Kami juga senang Ibu bisa mendapatkan manfaat dari website ini.
Bila ibu tergabung di facebook, ibu bisa mengikuti beberapa group (alumni SMP dan SMA Budi Mulia) di sana.