Alumni SMA Budi Mulia angkatan 1988 ________ Jl. Mangga Besar 135 – JAKARTA

Entries categorized as ‘Renungan’

The Fern and the Bamboo

8 Mei 2008 · 1 Tanggapan

The Fern and the Bamboo…..
 
One day I decided to quit….  I quit my job, my relationship, my spirituality…..  I wanted to quit my life.
I went to the woods to have one last talk with God.
 
“God”, I said. “Can you give me one good reason not to quit?”
 
His answer surprised me…
“Look around”, He said.  “Do you see the fern and the bamboo?”
 
“Yes”, I replied.
 
“When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good  care of  them.  I gave them light.  I gave them water. The fern quickly grew from the earth.  Its brilliant green covered  the  floor.  Yet nothing came from the bamboo seed.  But I did not  quit on  the bamboo.
 
In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful.  And  again, nothing came from the bamboo seed.  But I did not quit on  the bamboo”.
 
He said. “In the third year, there was still nothing from the  bamboo seed.  But I would not quit.
In the fourth year, again, there was nothing from the bamboo seed.  I would not quit.”
 
He said. “Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the  earth.  Compared to the fern it was seemingly small and insignificant.
But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots.  Those roots made it  strong and gave it what it needed to survive.  I would not give any  of my creations a challenge it could not handle.”
 
He said to me. “Did you know, my child, that all this time you have  been struggling, you have actually been growing roots.  I would not  quit on the bamboo.  I will never quit on you.  Don’t compare  yourself to others.”
 
He said. “The bamboo had a different purpose than the fern, yet,  they both make the forest beautiful.”

“Your time will come, “God said to me. ” You will rise high!”
 
“How high should I rise?” I asked.
 
“How high will the bamboo rise?” He asked in return.
 
“As high as it can?” I questioned.
 
“Yes.” He said, “Give me glory by rising as high as you can.”

 

I left the forest and brought back this story.  I hope these words  can help you see that God will never give up on you……..
 
Never regret a day in your life.
Good days give you Happiness.
Bad days give you Experiences.
Both are essential to life.
Keep going…
 
Happiness keeps you Sweet,
Trials keep you Strong,
Sorrows keep you Human,
Failures keep you Humble,
Success keeps You Glowing,
But Only God keeps You Going!

Kategori: Renungan

Berapa harga mujizat ?

27 Maret 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sally baru berumur 8 tahun ketika dia mendengar ayah dan ibunya berbicara tentang kakaknya Georgie. Kakaknya sakit dan mereka telah melakukan semuanya untuk menyelamatkan nyawanya. Hanya pengobatan yang sangat mahal yang dapat menolongnya sekarang tapi itu tidak mungkin karena keuangan keluarga tersebut.

Sally mendengar ayahnya berkata, hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya sekarang. Sally masuk kekamarnya dan mengambil celengan yang disimpannya, menjatuhkannya ke lantai dan menghitungnya dengan hati hati. 3 kali dihitungnya hingga benar benar yakin tidak salah hitung.

Dia memasukkan uang koin tsb kedalam saku sweaternya dan menyelinap meninggalkan rumahnya untuk menuju sebuah took obat. Dengan penuh kesabaran, ditunggunya si apoteker yang tengah sibuk berbicara dengan seorang pria. Si apoteker tidak melihatnya karena dia begitu kecil. Hal itu membuat Sally bosan dan dia menghentak hentakan kakinya kelantai untuk membuat kebisingan. Si apoteker melongokkan kepalanya tapi juga tidak melihat si Sally kecil.

Akhirnya dia keluar dan menemui Sally. “ Apa yang kamu mau ?” Tanya si Apoteker dengan keras. “ Saya sedang berbicara dengan saudara saya.” “ Baik , saya ingin berbicara ttg kakak saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “ Dia sakit, dan saya ingin membeli suatu mujizat. “ “ Maaf , apa yang kamu katakan ?” kata si apoteker. “ Ayah saya berkata hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya. Nah sekarang berapa harga mujizat itu ? “ “ Kami tidak menjual mujizat disini, anak kecil. Saya tidak dapat menolongmu.” “ Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya jadi katakan saja berapa harganya” kata Sally lantang.

Seorang pria dengan berpakaian rapi duduk jongkok dihadapannya dan bertanya ; “ Mujizat jenis apa yang dibutuhkan saudaramu ?” “ Saya tidak tahu,” jawab Sally. Airmata mulai mengalir dipipinya. “ Yang saya tahu, dia benar benar sakit dan ibu saya mengatakan kalau dia harus dioperasi. Tapi keluarga saya tidak dapat membayarnya…… jadi saya mengambil tabungan saya. “ Berapa banyak yang kau punya?” Tanya pria itu. “ Satu dollar11 sen,” jawabnya dengan bangga. “ Dan inilah semua uang yang saya punyai di dunia ini.” “ Wah , suatu diluar logika.” Senyum pria tadi Satu dollar 11 sen…. Harga yang tepat untuk mujizat yang menyelamatkan kakaknya. Dia mengambil uang itu dan tangan satunya membimbing tangan anak kecil itu sambil berkata: “Bawa aku ketempat kamu tinggal, aku ingin bertemu dengan kakak dan orang tuamu”.

Pria berpakaian rapi itu adalah Dr Carlton Armstrong, seorang specialis bedah. Dia membantu penyembuhan kakak Sally, si Georgie itu. Operasi berjalan sempurna tanpa bayaran dan tidak berlangsung lama sampai akhirnya Georgie kecil pulang kerumah dan sudah sembuh. Ayah dan ibunya sangat bahagia untuk peristiwa ini, “ Operasi itu ….. sebuah keajaiban…… Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan dan kita tidak membayarnya sedikitpun……” kata sang ibu.

Sally tersenyum sendiri….. Dia tahu persis berapa harga mujizat untuk kesembuhan kakaknya…. . satu dollar 11 sen dan tentu saja ditambah IMAN dari si Sally kecil.

The End

Renungan : Mungkin banyak persoalan dan beban dalam hidup kita dan semua cara sudah ditempuh untuk keluar dari persoalan tsb namun seringkali banyak jalan buntu dan hampir hampir kita sudah kehilangan asa dan menyerah.

Satu pelajaran yang manis melalui peristiwa diatas bahwa segala sesuatu masih mungkin terjadi dan MUJIZAT MASIH TETAP ADA dan berlaku sampai saat ini So NEVER GIVE UP dan berharap kepada ALLAH bahwa DIA bisa membuat segala sesuatu indah tepat pada waktunya.

Sumber artikel : Hanna K.

Kategori: Renungan